Gyeongnam Aug 25, 2026

Benteng Jinju: Panduan Langkah Demi Langkah ke Medan Perang Terbesar Imjin di Korea

By Lee

Mengunjungi Benteng Jinju? Biaya masuk, jam buka, legenda Nongae di Batu Uiam, dan cara melihat Paviliun Chokseongnu dengan benar.

Benteng Jinju: Panduan Langkah Demi Langkah ke Medan Perang Terbesar Imjin di Korea
촉석루 / ⓒ한국관광공사 포토코리아-한국관광공사 김지호

Kebanyakan wisatawan hanya melihat Benteng Jinju sebagai "taman dengan tembok tua" dan melewatinya begitu saja. Namun, tempat ini adalah lokasi kemenangan terbesar dan tragedi terbesar dalam Perang Imjin di tempat yang sama. Pada tahun 1592, Jenderal Kim Si-min dengan 3.800 pasukan berhasil mengalahkan ribuan tentara Jepang di Pertempuran Jinju, dan setahun kemudian, setelah benteng jatuh, Nongae memeluk jenderal Jepang dan melompat ke Sungai Namgang dari Batu Uiam yang ada di dalam benteng ini.

Berdasarkan pengalaman saya, untuk benar-benar melihat Benteng Jinju, Anda harus mengunjungi Paviliun Chokseongnu, Batu Uiam, Kuil Hoguksa, dan Museum Nasional Jinju secara berurutan, bukan hanya berjalan di sepanjang tembok. Dalam artikel ini, saya telah merangkum biaya masuk, jam operasional, cerita dari setiap tempat, dan waktu kunjungan untuk menghindari keramaian.

Meski bukan situs yang dipugar dengan megah seperti istana di Gyeongju atau Seoul, berjalan di sepanjang tembok yang mengelilingi Sungai Namgang akan membuat Anda merasakan mengapa orang-orang Joseon membangun benteng di sini. Tidak seperti situs sejarah terkenal lainnya yang ramai dengan turis, Benteng Jinju relatif tenang untuk dijelajahi, yang menjadi daya tarik tersendiri.

Alamat626 Namgang-ro, Jinju-si, Gyeongsangnam-do
Jam OperasionalMaret-Oktober 05:00-23:00, November-Februari 05:00-22:00
Hari LiburSetiap hari buka
Biaya MasukDewasa ₩2,000 / Remaja ₩1,000 / Anak-anak ₩600
Kontak+82-55-749-5171

Sejarah Benteng Jinju

Benteng Jinju pertama kali dibangun pada masa Tiga Kerajaan dan diperluas secara signifikan pada tahun 1379 untuk menahan serangan bajak laut Jepang. Benteng ini menjadi panggung penting dalam sejarah Korea selama Perang Imjin. Khususnya pada tahun 1592 dan 1593, dua pertempuran yang terjadi di sini berakhir dengan hasil yang sangat berbeda.

Pada Pertempuran Jinju pertama tahun 1592, 3.800 pasukan Joseon yang dipimpin Jenderal Kim Si-min berhasil mempertahankan benteng selama 7 hari melawan 20.000 hingga 30.000 tentara Jepang.※ Ukuran pasukan dapat bervariasi tergantung sumber, periksa sebelum berkunjung Mengingat perbedaan jumlah pasukan yang setidaknya 5 kali lipat, Anda bisa memahami mengapa kemenangan ini dianggap sebagai salah satu dari tiga kemenangan besar dalam Perang Imjin. Namun, Jenderal Kim Si-min tewas terkena peluru musuh di akhir pertempuran dan kemudian diakui atas jasanya dengan gelar "Chungmugong" bersama Jenderal Yi Sun-sin.

Pada tahun berikutnya, 1593, tentara Jepang menyerang Benteng Jinju dengan kekuatan yang jauh lebih besar untuk membalas kekalahan mereka di pertempuran pertama. Dalam pertempuran kedua yang berlangsung dari 20 hingga 27 Juli, benteng akhirnya jatuh, dan tidak hanya tentara yang bertahan, tetapi juga warga sipil di dalam benteng mengalami korban besar.

Dua pertempuran yang terjadi di benteng yang sama dengan hasil yang sangat berbeda ini menjadikan Benteng Jinju sebagai tempat yang memiliki makna khusus bagi orang Korea, bukan sekadar situs bersejarah. Hingga kini, penduduk Jinju memperingati kedua pertempuran ini sebagai "Pertempuran Jinju" dan "Jatuhnya Benteng Jinju".

TIP: Mengetahui kemenangan besar tahun 1592 dan jatuhnya benteng tahun 1593 akan membuat Anda merasakan tembok yang sama dengan cara yang sepenuhnya berbeda.

Cara Menuju ke Sana

Dari Terminal Bus Antar Kota Jinju atau Stasiun Jinju, Anda dapat mencapai Benteng Jinju dengan bus kota.※ Periksa rute bus yang tepat sebelum berkunjung Kota Jinju sendiri tidak terlalu besar, jadi menggunakan taksi juga tidak terlalu membebani.

Jika Anda datang dengan kendaraan, ada tempat parkir di sekitar benteng yang memudahkan. Benteng Jinju terletak di tepi Sungai Namgang, jadi dari mana pun Anda datang, Anda akan sampai di gerbang benteng dengan berjalan di sepanjang tepi sungai.

Jika Anda bepergian dari Seoul atau Busan ke Jinju, Anda dapat menggunakan bus ekspres atau kereta seperti KTX atau Mugunghwa. Jinju adalah kota pusat transportasi di bagian barat Gyeongsangnam-do, jadi cukup mudah untuk melakukan perjalanan sehari dari kota-kota besar terdekat seperti Busan dan Daegu. Jika Anda berencana untuk mengemudi dan menjelajahi daerah sekitarnya, lihat juga cara menyewa mobil di Korea.

Tempat Menarik

Di dalam Benteng Jinju, ada lima tempat utama yang bisa Anda kunjungi. Paviliun Chokseongnu di tebing Sungai Namgang, Batu Uiam yang tenggelam di bawahnya, Kuil Hoguksa yang tenang, Museum Nasional Jinju yang memamerkan artefak Perang Imjin, dan tembok yang mengelilingi seluruh benteng. Saya akan memperkenalkan tempat-tempat ini dalam urutan berikut, tetapi untuk rute sebenarnya, lihat bagian "Menghindari Keramaian & Rute yang Direkomendasikan" di belakang.

Paviliun Chokseongnu

Paviliun Chokseongnu adalah paviliun ikonik Benteng Jinju yang terletak di tebing Sungai Namgang. Pertama kali dibangun pada tahun 1241, paviliun ini telah mengalami beberapa kali kehancuran dan rekonstruksi, dan pada masa Dinasti Joseon, Paviliun Chokseongnu di Jinju, Paviliun Yeongnamnu di Miryang, dan Paviliun Bubyeongnu di Pyongyang diakui sebagai "Tiga Paviliun Besar Joseon" karena keindahannya.

Bangunan yang berdiri saat ini bukanlah yang asli. Paviliun ini hancur selama Perang Korea dan dibangun kembali pada tahun 1960 berkat upaya Komite Pelestarian Peninggalan Jinju. Dari paviliun ini, Anda dapat melihat pemandangan Sungai Namgang yang mengalir deras dan kota di seberangnya, meskipun bukan bangunan asli, simbolisme tempat ini tetap terjaga.

Ini juga merupakan tempat yang paling sering difoto di dalam Benteng Jinju. Terutama saat matahari terbenam, pemandangan Sungai Namgang dari Paviliun Chokseongnu adalah pemandangan yang sayang untuk dilewatkan dalam perjalanan Anda ke Jinju.

Batu Uiam

Batu Uiam adalah batu kecil yang terletak di tebing bawah Paviliun Chokseongnu, yang berarti "batu yang berani". Sebelum Perang Imjin, batu ini disebut "Wiam" yang berarti "batu yang berbahaya". Permukaan atas batu ini berbentuk datar dengan lebar sekitar 3,65 m dan panjang 3,3 m, menjulang di atas Sungai Namgang.

Setelah Benteng Jinju jatuh pada tahun 1593, dikisahkan bahwa seorang wanita bernama Nongae memeluk jenderal Jepang dan melompat ke Sungai Namgang dari batu ini saat tentara Jepang merayakan kemenangan mereka. Peristiwa ini, di mana ia mengorbankan nyawanya untuk menenggelamkan jenderal musuh, masih dikenang sebagai sejarah penting yang mewakili Jinju.

Tepat di sebelah batu ini terdapat Kuil Uigisa yang didedikasikan untuk mengenang Nongae. Dari atas Paviliun Chokseongnu, Anda dapat melihat permukaan datar Batu Uiam yang menonjol di atas air, dan setelah melihat bahwa ukurannya hanya cukup untuk beberapa orang berdiri, cerita hari itu akan terasa lebih nyata.

Kuil Hoguksa

Kuil Hoguksa adalah kuil kecil yang terletak di dalam Benteng Jinju. Tempat ini memiliki makna untuk memperingati mereka yang gugur selama Perang Imjin, memberikan suasana yang tenang berbeda dari paviliun megah di dalam benteng. Setelah mengunjungi Paviliun Chokseongnu atau Batu Uiam, tempat ini cocok untuk berhenti sejenak dan memperlambat langkah Anda.

Meski ukurannya tidak besar, Anda bisa mengelilinginya dalam waktu sekitar 5 menit, namun menemukan tempat yang tenang di dalam benteng yang telah mengalami dua pertempuran besar ini memberikan kesan yang berbeda. Ini juga merupakan tempat yang baik untuk beristirahat sejenak saat berjalan di atas tembok benteng.

Tembok & Pameran Meriam

Tembok yang mengelilingi Benteng Jinju sebagian besar telah dipugar, tetapi Anda dapat berjalan di atasnya sambil menikmati pemandangan Sungai Namgang dan kota. Di beberapa tempat, ada pameran meriam yang digunakan pada masa itu, sehingga hanya dengan berjalan di sepanjang tembok, Anda dapat membayangkan struktur pertahanan selama Perang Imjin.

Museum Nasional Jinju

국립진주박물관 / ⓒ한국관광공사 포토코리아-한국관광공사 김지호

Di dalam Benteng Jinju terdapat Museum Nasional Jinju, di mana Anda dapat melihat artefak dan materi terkait Perang Imjin. Dibuka pada Februari 1984 sebagai museum yang secara khusus menangani Perang Imjin, museum ini juga memamerkan materi sejarah dan budaya dari Zaman Neolitikum hingga Dinasti Joseon. Tempat ini mudah terlewatkan jika Anda hanya melihat tembok dan paviliun, tetapi jika Anda ingin memahami lebih dalam tentang Pertempuran Jinju dan situasi pertempuran saat itu, tempat ini layak untuk dikunjungi.

Khususnya, ada pemutaran video animasi 3D yang merekonstruksi situasi selama Perang Imjin, dan panduan suara dalam bahasa Inggris juga disediakan, sehingga wisatawan asing yang tidak akrab dengan sejarah Korea dapat mengikuti konteksnya dengan mudah. Jika Anda mengunjungi Paviliun Chokseongnu dan Batu Uiam terlebih dahulu, kemudian melihat materi di museum, Anda akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.

Menghindari Keramaian & Rute yang Direkomendasikan

Benteng Jinju buka sepanjang tahun dari pagi hingga malam, jadi jika Anda mengunjungi pada pagi hari, Anda bisa menjelajah dengan lebih tenang. Terutama di musim panas, kunjungan pagi hari akan membantu Anda menghindari panas.

Rute yang direkomendasikan adalah masuk melalui gerbang timur, menuju Paviliun Chokseongnu terlebih dahulu, kemudian mengunjungi Batu Uiam dan Kuil Uigisa di bawahnya, melewati Kuil Hoguksa, dan mengakhiri kunjungan di Museum Nasional Jinju. Dengan rute ini, Anda akan mengikuti aliran Sungai Namgang secara alami, dan lebih mudah memahami latar belakang sejarah dalam urutan waktu.

Pada akhir pekan atau hari libur, pengunjung lokal yang datang bersama keluarga cenderung lebih banyak, jadi jika Anda ingin mengambil foto dengan tenang, kunjungan pada pagi hari di hari kerja sangat disarankan. Seluruh benteng berada di atas tanah datar, jadi tidak terlalu membebani untuk berjalan, tetapi pada siang hari di musim panas, ada bagian yang kurang teduh, jadi sebaiknya bawa air.

Tempat Menginap di Sekitar

진주남강유등축제 / ⓒ한국관광공사 포토코리아-한국관광공사 김지호

Jika Anda mengunjungi selama Festival Lentera Namgang yang diadakan setiap awal Oktober di Jinju, Anda akan melihat pemandangan khusus di mana Benteng Jinju dan area Sungai Namgang dipenuhi lentera. Asal mula festival ini sebenarnya berhubungan dengan Pertempuran Jinju. Selama pertempuran tahun 1592, tentara menggunakan lentera di Sungai Namgang untuk saling memberi sinyal atau menghalangi penyeberangan tentara Jepang, dan kebiasaan menyalakan lentera untuk mengenang mereka yang gugur dalam pertempuran kemudian berkembang menjadi festival saat ini.

Anda dapat melihat ribuan lentera, dari yang sebesar bangunan hingga lentera kecil yang bisa dipegang, memenuhi Sungai Namgang di bawah tembok benteng yang berusia lebih dari 400 tahun.※ Periksa jadwal festival yang tepat di situs resmi sebelum berkunjung Pasar tradisional di pusat kota Jinju juga tidak jauh dari Benteng Jinju, jadi Anda bisa mengunjungi keduanya sekaligus.

Jika Anda penasaran dengan transportasi ke Jinju, lihat panduan penggunaan bus ekspres, dan jika Anda sedang merencanakan anggaran perjalanan, panduan anggaran perjalanan harian juga bisa membantu. Jika Anda khawatir tentang navigasi, periksa aplikasi peta untuk perjalanan di Korea sebelumnya.

Jika Anda mencari tempat menginap di dekat Jinju, lihat peta di bawah ini untuk membandingkan lokasi dan kisaran harga secara langsung.

Dengan memesan melalui peta ini, TripKorean dapat menerima komisi kecil.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa biaya masuk ke Benteng Jinju?

Dewasa ₩2,000, Remaja ₩1,000, Anak-anak ₩600.

Sampai jam berapa Benteng Jinju buka?

Maret-Oktober buka hingga pukul 23:00, November-Februari hingga pukul 22:00, dan buka setiap hari.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berkeliling?

Jika Anda ingin mengunjungi Paviliun Chokseongnu, Batu Uiam, Kuil Hoguksa, dan Museum Nasional Jinju dengan santai, sebaiknya sediakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam. Jika ingin melihat pameran museum dengan lebih teliti, tambahkan 30 menit lagi.

Apakah Nongae adalah tokoh nyata?

Ya, dia adalah tokoh nyata yang dikenal memeluk jenderal Jepang dan melompat ke Sungai Namgang setelah Benteng Jinju jatuh pada tahun 1593. Bagi penduduk Jinju, Nongae masih dikenang sebagai tokoh yang mengorbankan nyawanya untuk negara.

Apakah pemandangan malamnya layak dilihat?

Ya, Benteng Jinju buka hingga larut malam, dan pemandangan malam dengan tembok dan Paviliun Chokseongnu yang diterangi cahaya sangat populer. Pemandangan ini memberikan suasana yang berbeda dari siang hari, jadi jika Anda punya waktu, kunjungi dua kali, siang dan malam.

Apakah cocok untuk dikunjungi bersama anak-anak?

Ya, jalur jalan kaki di atas tanah datar membuatnya cocok untuk keluarga. Beberapa bagian jalur di atas tembok memiliki tangga, jadi jika Anda membawa kereta bayi, sebaiknya rencanakan rute di bagian yang datar.

Apakah ada tempat parkir?

Ya, ada tempat parkir di sekitar benteng.※ Periksa informasi parkir yang tepat sebelum berkunjung

Apakah mungkin perjalanan sehari dari Busan?

Ya, Jinju adalah kota pusat transportasi di bagian barat Gyeongsangnam-do, jadi cukup mudah untuk perjalanan sehari dari Busan dengan bus ekspres atau kereta.※ Periksa waktu tempuh yang tepat sebelum berkunjung

Jika Anda hanya berjalan di sepanjang tembok Benteng Jinju, Anda belum benar-benar melihat setengahnya. Setelah melihat Sungai Namgang dari Paviliun Chokseongnu, mengingat cerita Nongae di depan Batu Uiam, dan memahami pertempuran hari itu di Museum Nasional Jinju, Anda akan mengerti mengapa kota ini dikenal lama hanya karena satu benteng ini.

Meskipun berbeda dari situs bersejarah yang megah di Seoul atau Gyeongju, saya pikir daya tarik sebenarnya dari benteng ini adalah Anda bisa berjalan dengan tenang di lokasi Pertempuran Jinju.